Makna
di Tengah Perbedaan
Fahri dan Fahmi adalah
sepasang sahabat yang duduk di bangku Sekolah Menengah Atas Setia Budi kelas
dua belas. Persahabatan mereka yang sejak kecil membuat mereka tak terpisahkan
hingga suatu ketika ada siswi baru di sekolah mereka yang secara kebetulan
duduk di kelas dua belas.
Fahri dan Fahmi pun
menghampiri siswi baru yang duduk sendirian,
“ Assalam mualaikum, maaf
nama kamu siapa ?”. Tanya Fahri
“ Nama aku Yani “. Jawab
Yani
“ Kamu kenapa tidak menjawab
salam kita? Kan hukumnya menjawab salam itu wajib” Tanya Fahmi
“Maaf agamaku Kristen”.
Jawab Yani
“ Maaf yan aku tidak tahu.
Ohiya, kamu pindahan dari SMA mana?”. Tanya Fahmi
“ Aku pindahan dari SMA
Katolik “ Jawab Yani
“ Katolik? Kenapa kamu lebih
memilih sekolah di sekolah umum seperti sekolah ini? “. Tanya Fahri dengan rasa
ingin tahu yang tinggi.
“ Iya karna sebelumnya aku
ingin berteman dengan orang-orang yang mempunyai agama yang berbeda. Aku ingin
merasakan kedamaian ditengahnya perbedaan, aku yakin perbedaan yang ada akan
membuat kita semua menjadi lebih bermakna, dengan saling melengkapi dan
menghargai “. Jelas Yani
“ Iya tapi kan, disetiap
perbedaan pasti selalu ada masalah yang membuat kedamaian itu menjadi rusak?”
Tanya Fahri dengan intonasi yang semakin membuatnya penasaran
“ Iya aku tau, tapi aku
yakin perbedaan itulah yang akan membuat semuanya semakin bermakna, kita bisa
saling belajar atas dasar perbedaan, kita bisa saling melengkapi dengan adanya
kelebihan dibalik perbedaan tersebut. Saling menghargai adalah kunci utamanya”.
Jawab Yani
“ Iya kamu benar, ohya maaf
sudah menjelang waktu zuhur, aku sama fahmi ke mushola dulu ya, kita mau sholat
”. Izin Fahri pada saat mendengar adzan zuhur
“ Iya silakan “. Jawab Yani
Pada saat dijalan menuju mushola
Fahri dan Fahmi berbincang-bincang mengenai obrolannya dengan Yani pada saat
dikelas.
“ Ri kamu yakin ingin
berteman dengan Yani ?”. Tanya Fahmi yang sedikit ragu
“ Iya yakin, memangnya
kenapa?”. Fahri kembali bertanya kepada Fahmi dengan rasa penasaran
“ Yakan agama kita berbeda
ri, apa kamu yakin? Bukannya kamu enggak pernah mau berteman sama orang yang
berbeda agama ya? ”. Tanya balik Fahmi
“ Iya aku emang enggak mau
berteman sama orang yang berbeda agama, tapi Yani itu beda. Dengan jawaban dia
tadi, ada benarnya jugi, mungkin akan lebih indah ketika perbedaan bisa menjadi
tiang yang nantinya akan memperkokoh kesatuan yang ada pada saat ini “. Jelas
Fahri
“ Kamu kenapa jadi enggak
konsisten seperti ini? Setau aku, kamu itu keras kepala, kamu selalu megang
omongan kamu, tapi kenapa saat ini kamu jadi tidak konsisten kaya gini? “.
Tanya Fahmi dengan nada yang kesal
“ Yaudah mi, yaudah kita ke
mushola aja yuk. Nanti kalau sesudah sholat kita omongin ini baik-baik “.
Mengalihkan pembicaran, karna Fahri tidak ingin meperkeruh masalah
Selasai sholat, Fahmi dan
Fahri kembali kekelas. Dan pada saat itu Yani pun menegur mereka.
“ Hai, Fahmi Fahri? Kalian
udah selesai sholatnya ?”. Tanya Yani
“ Kamu enggak liat kita udah
dikelas? Yaudahlah”. Jawab Fahmi dengan nada yang sedikit kesal karna ketidak
sukaannya terhadap Yani.
“ Iya udah kok, kita udah
selesai sholatnya “. Jawab Fahri, dengan mengalihkan pembicaraannya Fahmi
“ Iya maaf mi “. Jawab Yani,
dengan ekspresi tertunduk
Dan pada saat itu, Fahmipun
keluar kelas, lalu Fahri menghampiri Fahmi dan meminta maaf kepada Yani atas
ucapannya Fahmi barusan.
“ Mi, kamu kenapa sih? Emang
Yani salah apa sampai kamu ngomong kaya tadi? Dia tuh perempuan mi, yang harus
kamu jaga perasaannya. Walaupun dia hanya teman baru untuk kita senggaknya kamu
bisa menjaga sikap kamu”. Ujar Fahri
“ Apaan? Kamu bilang dia
teman kita? Teman kamu kali. Asal kamu tau ya yang bikin aku enggak suka sama
kehadirannya dia, ya karna kamu enggak konsisten sama omongan kamu yang dulunya
kamu bilang kalau kamu enggak mau berteman sama orang yang beda dari kita “
Jelas Fahmi
“ Iya mi aku tau dulu aku
pernah ngomong kaya gitu , tapi itu dulu semenjak aku belum kenal Yani. Aku
sadar kalau kita seharusnya saling menjaga dan saling menghargai. Apa salahnya
kalau kita berteman sama dia? “. Tanya Fahri
“ Jelas salah, karna dia
yang udah menyebabkan konflik. Inget ri, perbedaan akan tetap jadi perbedaan. Dan
selamanya perbedaan itu enggak akan bisa jadi persatuan, apalagi perbedaan
agama “. Jawab Fahmi
“ Dari dulu kita selalu satu
sekolah mi, dan kita lulusan Mtsn. Kemana nilai-nilai yang udah pernah diajarin
sama guru agama kita? Kemana mi? kamu dulu pernah bilang sama aku, bahwa kita
harus saling menghormati antar perbedaan, entah itu suku, ras, budaya dan
agama. Kamu inget kan? ”. Jawab Fahri
“ Iya aku tau, tapi disini
yang bikin aku enggak suka adalah dia yang udah bikin kamu jadi enggak
konsisten sama omongan kamu sendiri” Jawab Fahmi
“ Aku emang enggak konsisten
tapi satu hal mi yang harus kamu tau, kamu harusnya bersyukur aku bisa sadar
kalau kita harus mempersatukan perbedaan. Tolong buka pikiran kamu. Islam bukan
agama yang mencintai permusuhan. Islam cinta kedamaian. Kamu mau disebut dengan
orang munafik? Karna kamu enggak pernah mau menghargai nonmuslim, sedangkan dia
sangat menghargai agama kita? “ Ujar Fahri dengan intonasi yang sedikit tinggi
“ Udahlah aku cape debat
sama kamu. Kita temenan udah dari kecil, dan aku tau kamu. Kamu bukan tipe
orang yang enggak pernah konsisten”. Ujar Fahmi dengan kesal
“ Mi, kapan sih kamu sadar?
Aku emang enggak konsisten tapi aku sadar dibalik omongannya Yani tadi aku tau
kalau aku salah. Dulu aku selalu mandang perbedaan itu adalah konflik dan kamu
tau aku enggak suka konflik”. Jelas Fahri
“ Terserah kamu deh, aku
udah males ngeliat kamu “. Ujar Fahmi sambil meninggalkan Fahmi
Dan pada saat itu Fahri
bingung harus menjelaskan seperti apalagi kepada Fahmi.
“ Yaallah, kenapa keadaan
ini berubah? Fahmi jadi salah mengartikan perbedaan. Tolong bukakan hati Fahmi
agar dia mau berusaha menghargai perbedaan. Aku yakin didunia ini banyak sekali
perbedaan yang akan membuat hidup semakin bermakna”. Ucap Fahri didalam hati
Tidak lama kemudian Fahmi
menghampiri Yani yang berada didalam kelas.
“ Puas kamu yan? Karna
kehadiran kamu, persahabatan aku sam Fahri jadi berantakan”. Ujar Fahmi dengan
keadaan emosi
“ Maaf mi, maksud kamu apa?
Aku enggak ngerti “. Jawab Yani dengan bingung sebenarnya apa yang terjadi
“ Asal kamu tau, dulu Fahri
sangat konsisten dengan omongannya. Dia enggak mau berteman sama orang
nonmuslim, tapi kenapa semenjak kehadiran kamu Fahri jadi ngebela kamu? “ Tanya
Fahmi
“ Maaf mi, aku beneran
enggak ada maksud sedikitpun untuk merusak persahabatan kalian. Aku disini cuma
anak baru yang ingin mengenal perbedaan yang ada disekolah ini. Apa aku salah
berteman sama kalian? Apa aku salah jika aku menghargai agama kalian? Aku
enggak pernah melarang kalian untuk menjalankan ibadah, tapi kenapa kamu
berfikir kalau Fahri itu salah berteman sama aku? Enggak semua nonmuslim tidak
bisa menghargai orang lain apalagi agama yang berurusan langsung dengan Tuhan.
Aku punya agama, aku punya Tuhan. Dan aku yakin aku juga punya rasa saling
menghargai. Inget mi! “. Dengan nada tegas Yani menjelaskan semuanya terhadap
Fahmi
Tidak lama kemudian Fahripun
menghampiri mereka.
“ Mi, udah kenapa sih?
Enggak seharusnya kamu bersikap seperti ini. Allah menciptakan kita itu udah
jelas berbeda. Kita udah SMA mi enggak seharusnya juga kamu egois kaya gini.
Lagipula Yani itu enggak sama sekali mengejek agama kita kan? Udahlah, buka
pikiran kamu. Kita udah dewasa, harusnya kita bersyukur karna kita sudah
dipertemukan dengan Yani. Kalau enggak ada dia kita udah salah pengertian.
Insyaallah kalau kita bisa saling menghargai kita juga akan bersatu tanpa ada
masalah, sekarang yang harus kamu pikirin adalah gimana caranya supaya kita
bisa rukun satu sama lain?” Jelas Fahri
“ Iya Yan, Ri. Aku sadar kalau seharusnya aku
enggak bersikap seperti ini. Aku minta maaf ya terutama sama kamu Yan karna aku
udah enggak bisa nerima perbedaan diantara kita. Tapi aku janji untuk belajar
saling menghargai antar perbedaan tersebut”. Ucap Fahmi
“ Nah gitu dong Mi , maaf
juga aku tadi emosi sama kamu” Ujar Fahri
“ Iya Mi, aku juga ya. Mulai
sekarang kita harus saling menghargai, melengkapi, dan menghormati perbedaan”.
Kata Yani
Dan akhirnya Fahmipun sadar
kalau dia seharusnya enggak bersikap bodoh dan emosional. Dengan
penjelasan-penjelasan dari Yani dan Fahri, Fahmipun sadar kalau dibalik kata
perbedaan selalu ada pelengkap supaya perbedaan tersebut bisa menjadi tiang
yang kokoh untuk persahabatannya.