Kamis, 15 Oktober 2015

MAKNA DIANTARA PERBEDAAN #GREAT2ndCOMPETITIONFEUNJ



Makna di Tengah Perbedaan
Fahri dan Fahmi adalah sepasang sahabat yang duduk di bangku Sekolah Menengah Atas Setia Budi kelas dua belas. Persahabatan mereka yang sejak kecil membuat mereka tak terpisahkan hingga suatu ketika ada siswi baru di sekolah mereka yang secara kebetulan duduk di kelas dua belas.
Fahri dan Fahmi pun menghampiri siswi baru yang duduk sendirian,
“ Assalam mualaikum, maaf nama kamu siapa ?”. Tanya Fahri
“ Nama aku Yani “. Jawab Yani
“ Kamu kenapa tidak menjawab salam kita? Kan hukumnya menjawab salam itu wajib” Tanya Fahmi
“Maaf agamaku Kristen”. Jawab Yani
“ Maaf yan aku tidak tahu. Ohiya, kamu pindahan dari SMA mana?”. Tanya Fahmi
“ Aku pindahan dari SMA Katolik “ Jawab Yani
“ Katolik? Kenapa kamu lebih memilih sekolah di sekolah umum seperti sekolah ini? “. Tanya Fahri dengan rasa ingin tahu yang tinggi.
“ Iya karna sebelumnya aku ingin berteman dengan orang-orang yang mempunyai agama yang berbeda. Aku ingin merasakan kedamaian ditengahnya perbedaan, aku yakin perbedaan yang ada akan membuat kita semua menjadi lebih bermakna, dengan saling melengkapi dan menghargai “. Jelas Yani
“ Iya tapi kan, disetiap perbedaan pasti selalu ada masalah yang membuat kedamaian itu menjadi rusak?” Tanya Fahri dengan intonasi yang semakin membuatnya penasaran
“ Iya aku tau, tapi aku yakin perbedaan itulah yang akan membuat semuanya semakin bermakna, kita bisa saling belajar atas dasar perbedaan, kita bisa saling melengkapi dengan adanya kelebihan dibalik perbedaan tersebut. Saling menghargai adalah kunci utamanya”. Jawab Yani
“ Iya kamu benar, ohya maaf sudah menjelang waktu zuhur, aku sama fahmi ke mushola dulu ya, kita mau sholat ”. Izin Fahri pada saat mendengar adzan zuhur
“ Iya silakan “. Jawab Yani
Pada saat dijalan menuju mushola Fahri dan Fahmi berbincang-bincang mengenai obrolannya dengan Yani pada saat dikelas.
“ Ri kamu yakin ingin berteman dengan Yani ?”. Tanya Fahmi yang sedikit ragu
“ Iya yakin, memangnya kenapa?”. Fahri kembali bertanya kepada Fahmi dengan rasa penasaran
“ Yakan agama kita berbeda ri, apa kamu yakin? Bukannya kamu enggak pernah mau berteman sama orang yang berbeda agama ya? ”. Tanya balik Fahmi
“ Iya aku emang enggak mau berteman sama orang yang berbeda agama, tapi Yani itu beda. Dengan jawaban dia tadi, ada benarnya jugi, mungkin akan lebih indah ketika perbedaan bisa menjadi tiang yang nantinya akan memperkokoh kesatuan yang ada pada saat ini “. Jelas Fahri
“ Kamu kenapa jadi enggak konsisten seperti ini? Setau aku, kamu itu keras kepala, kamu selalu megang omongan kamu, tapi kenapa saat ini kamu jadi tidak konsisten kaya gini? “. Tanya Fahmi dengan nada yang kesal
“ Yaudah mi, yaudah kita ke mushola aja yuk. Nanti kalau sesudah sholat kita omongin ini baik-baik “. Mengalihkan pembicaran, karna Fahri tidak ingin meperkeruh masalah
Selasai sholat, Fahmi dan Fahri kembali kekelas. Dan pada saat itu Yani pun menegur mereka.
“ Hai, Fahmi Fahri? Kalian udah selesai sholatnya ?”. Tanya Yani
“ Kamu enggak liat kita udah dikelas? Yaudahlah”. Jawab Fahmi dengan nada yang sedikit kesal karna ketidak sukaannya terhadap Yani.
“ Iya udah kok, kita udah selesai sholatnya “. Jawab Fahri, dengan mengalihkan pembicaraannya Fahmi
“ Iya maaf mi “. Jawab Yani, dengan ekspresi tertunduk
Dan pada saat itu, Fahmipun keluar kelas, lalu Fahri menghampiri Fahmi dan meminta maaf kepada Yani atas ucapannya Fahmi barusan.
“ Mi, kamu kenapa sih? Emang Yani salah apa sampai kamu ngomong kaya tadi? Dia tuh perempuan mi, yang harus kamu jaga perasaannya. Walaupun dia hanya teman baru untuk kita senggaknya kamu bisa menjaga sikap kamu”. Ujar Fahri
“ Apaan? Kamu bilang dia teman kita? Teman kamu kali. Asal kamu tau ya yang bikin aku enggak suka sama kehadirannya dia, ya karna kamu enggak konsisten sama omongan kamu yang dulunya kamu bilang kalau kamu enggak mau berteman sama orang yang beda dari kita “ Jelas Fahmi
“ Iya mi aku tau dulu aku pernah ngomong kaya gitu , tapi itu dulu semenjak aku belum kenal Yani. Aku sadar kalau kita seharusnya saling menjaga dan saling menghargai. Apa salahnya kalau kita berteman sama dia? “. Tanya Fahri
“ Jelas salah, karna dia yang udah menyebabkan konflik. Inget ri, perbedaan akan tetap jadi perbedaan. Dan selamanya perbedaan itu enggak akan bisa jadi persatuan, apalagi perbedaan agama “. Jawab Fahmi
“ Dari dulu kita selalu satu sekolah mi, dan kita lulusan Mtsn. Kemana nilai-nilai yang udah pernah diajarin sama guru agama kita? Kemana mi? kamu dulu pernah bilang sama aku, bahwa kita harus saling menghormati antar perbedaan, entah itu suku, ras, budaya dan agama. Kamu inget kan? ”. Jawab Fahri
“ Iya aku tau, tapi disini yang bikin aku enggak suka adalah dia yang udah bikin kamu jadi enggak konsisten sama omongan kamu sendiri” Jawab Fahmi
“ Aku emang enggak konsisten tapi satu hal mi yang harus kamu tau, kamu harusnya bersyukur aku bisa sadar kalau kita harus mempersatukan perbedaan. Tolong buka pikiran kamu. Islam bukan agama yang mencintai permusuhan. Islam cinta kedamaian. Kamu mau disebut dengan orang munafik? Karna kamu enggak pernah mau menghargai nonmuslim, sedangkan dia sangat menghargai agama kita? “ Ujar Fahri dengan intonasi yang sedikit tinggi
“ Udahlah aku cape debat sama kamu. Kita temenan udah dari kecil, dan aku tau kamu. Kamu bukan tipe orang yang enggak pernah konsisten”. Ujar Fahmi dengan kesal
“ Mi, kapan sih kamu sadar? Aku emang enggak konsisten tapi aku sadar dibalik omongannya Yani tadi aku tau kalau aku salah. Dulu aku selalu mandang perbedaan itu adalah konflik dan kamu tau aku enggak suka konflik”. Jelas Fahri
“ Terserah kamu deh, aku udah males ngeliat kamu “. Ujar Fahmi sambil meninggalkan Fahmi
Dan pada saat itu Fahri bingung harus menjelaskan seperti apalagi kepada Fahmi.
“ Yaallah, kenapa keadaan ini berubah? Fahmi jadi salah mengartikan perbedaan. Tolong bukakan hati Fahmi agar dia mau berusaha menghargai perbedaan. Aku yakin didunia ini banyak sekali perbedaan yang akan membuat hidup semakin bermakna”. Ucap Fahri didalam hati
Tidak lama kemudian Fahmi menghampiri Yani yang berada didalam kelas.
“ Puas kamu yan? Karna kehadiran kamu, persahabatan aku sam Fahri jadi berantakan”. Ujar Fahmi dengan keadaan emosi
“ Maaf mi, maksud kamu apa? Aku enggak ngerti “. Jawab Yani dengan bingung sebenarnya apa yang terjadi
“ Asal kamu tau, dulu Fahri sangat konsisten dengan omongannya. Dia enggak mau berteman sama orang nonmuslim, tapi kenapa semenjak kehadiran kamu Fahri jadi ngebela kamu? “ Tanya Fahmi
“ Maaf mi, aku beneran enggak ada maksud sedikitpun untuk merusak persahabatan kalian. Aku disini cuma anak baru yang ingin mengenal perbedaan yang ada disekolah ini. Apa aku salah berteman sama kalian? Apa aku salah jika aku menghargai agama kalian? Aku enggak pernah melarang kalian untuk menjalankan ibadah, tapi kenapa kamu berfikir kalau Fahri itu salah berteman sama aku? Enggak semua nonmuslim tidak bisa menghargai orang lain apalagi agama yang berurusan langsung dengan Tuhan. Aku punya agama, aku punya Tuhan. Dan aku yakin aku juga punya rasa saling menghargai. Inget mi! “. Dengan nada tegas Yani menjelaskan semuanya terhadap Fahmi
Tidak lama kemudian Fahripun menghampiri mereka.
“ Mi, udah kenapa sih? Enggak seharusnya kamu bersikap seperti ini. Allah menciptakan kita itu udah jelas berbeda. Kita udah SMA mi enggak seharusnya juga kamu egois kaya gini. Lagipula Yani itu enggak sama sekali mengejek agama kita kan? Udahlah, buka pikiran kamu. Kita udah dewasa, harusnya kita bersyukur karna kita sudah dipertemukan dengan Yani. Kalau enggak ada dia kita udah salah pengertian. Insyaallah kalau kita bisa saling menghargai kita juga akan bersatu tanpa ada masalah, sekarang yang harus kamu pikirin adalah gimana caranya supaya kita bisa rukun satu sama lain?” Jelas Fahri
 “ Iya Yan, Ri. Aku sadar kalau seharusnya aku enggak bersikap seperti ini. Aku minta maaf ya terutama sama kamu Yan karna aku udah enggak bisa nerima perbedaan diantara kita. Tapi aku janji untuk belajar saling menghargai antar perbedaan tersebut”. Ucap Fahmi
“ Nah gitu dong Mi , maaf juga aku tadi emosi sama kamu” Ujar Fahri
“ Iya Mi, aku juga ya. Mulai sekarang kita harus saling menghargai, melengkapi, dan menghormati perbedaan”. Kata Yani
Dan akhirnya Fahmipun sadar kalau dia seharusnya enggak bersikap bodoh dan emosional. Dengan penjelasan-penjelasan dari Yani dan Fahri, Fahmipun sadar kalau dibalik kata perbedaan selalu ada pelengkap supaya perbedaan tersebut bisa menjadi tiang yang kokoh untuk persahabatannya.